Dampak Sosial Perkembangan Teknologi

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia terbilang cukup pesat, dalam rentang 2-3 tahun ini teknologi benar-benar tersedia secara terbuka untuk masyarakat di era modern. Bahkan di desa sekalipun teknologi sudah mudah ditemukan berupa handphone, kendaraan, mesin-mesin dan lainnya.

Banyak yang menyadari jika perkembangan teknologi yang mendominasi tatanan sosial dan kehidupan masyarakat kota bakal merusak tatanan sosial masyarakat asli ataupun sistem tradisional sebagai warisan budaya. Banyak kota-kota baru hadir dan mengesampingkan budaya mereka, cara mereka hidup bermasyarakat, dan sifat individualisme mulai tumbuh di kota-kota besar hingga sampai pula di desa.

Pada tahun 2000-an masih kita dapati adanya kegiatan gotong royong sebagai bentuk solidaritas masyarakat. Sebagai masyarakat yang beradab seharusnya saling membantu secara percuma atau bersumber pada keihklasan. Namun di tahun 2018, hampir dibilang tidak ada sistem ini. solidaritas di era perkembangan teknologi dibangun dengan hashtag di Instagram atau twitter. Seolah solidaritas tidak berbentuk tindakan lagi, bahkan akibat tagar ataupun hashtag banyak terjadi tindakan sporadis, berbahaya bagi kesatuan masyarakat.

Anak-anak muda menjadikan bio akun media sosial sebagai representasi real dengan sistem citra yang diperbaharui oleh teknologi. Banyak contohnya pengguna media sosial yang bertolak belakang dengan realita, ada yang terlihat kaya padahal didunia nyata tidak demikian. Inilah yang dinamakan sistem baru akibat dampak sosial alur lanjutan dari salah bijak dalam menghadapi era modern penuh teknologi.

Di media sosial untuk chatting dan momen, diwakili oleh Line, WhatsApp, dan BBM.  Perkembangan teknologi di aplikasi chatting berbasis jaringan internet itu, banyak pengguna yang begitu peduli dengan pertemanan, persahabatan, perkenalan, dan lainnya. Akan tetapi secara realitas, dan melihat relevansi kehidupan mereka. Tidak berjalan demikian, mereka cendrung bersifat materialistis dan invidualis. Kepentingan menjadi patokan dalam mengenal orang di dunia nyata. Contoh, ada orang yang berkenalan dan berteman dalam urusan bisnis, dan ada orang hanya berteman akibat satu band, satu klub dan lainnya. Sedangkan melihat realitanya mereka di lingkungan terdekat begitu jauh dengan masyarakat sekitar, dalm hal hubungan dan interaksi sosial. Tetapi begitu dekat dengan orang jauh yang tidak jelas sifat asli mereka.

Representasi yang salah di aplikasi chatting ini berlanjut pada tahap lanjut. Perkembangan teknologi juga menawarkan media sosial berupa Instagram dan Twitter. Disinilah citra dibuat sedemikian rupa, mereka memperbaiki segala hal, dan membagikan banyak hal. Ini semua diharapkan semata-mata dalam anggapan bahwa orang lain peduli dengan mereka. Suatu sistem baru terbentuk, tanpa komen ada ribuan like, ini aneh sekali. Banyaknya pengguna yang melike momen yang mereka bagikan tetapi tidak ada sama sekali interaksi yang terjadi.

Intinya perkembangan teknologi dalam hal media sosial sebagai media informasi sudah mulai bersifat searah. Banyak sifat dan keinginan untuk berteman namun tidak mau mengawali perkanalan. Pengguna media sosial secara otomatis juga telah merusak pola interaksi di dunia nyata dan juga banyak yang gagal melakukan komunikasi di media sosial.

Be Sociable, Share!

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *